Aksi Janin Lewat USG

Dr. Prima Progestian Brawijaya Women & Children Hospital

Dr. Prima Progestian
Brawijaya Women & Children Hospital

Salah satu fungsi pemeriksaan USG adalah untuk mengetahui jenis kelamin janin. Tapi, sebenarnya fungsi USG lebih dari itu. USG adalah alat yang memancarkan transmisi gelombang suara ultrasound (frekuensi tinggi sekitar 2 MHz-10 MHz). Kemudian gema gelombang suara ini diterjemahkan computer menjadi gambar pada layar monitor, sehingga terciptalah gambaran dan perilaku janin. Pada USG 2 dimensi, jaringan keras seperti tulang tak memantulkan gelombang suara sehingga memunculkan bayangan putih di gambar. Jaringan lunak tampak abu-abu dan berbintik-bintik, sedangkan cairan tidak memantulkan gema sehingga muncul bayangan hitam.

Umumnya pemeriksaan USG kehamilan dilakukan melalui perut (transabdomimal). Saat pemeriksaan, ibu diminta berbaring pada tempat tidur pemeriksaan dan dokter akan memberikan jelly ke perut pasien, lalu akan melakukan pemeriksaan dengan alat/probe yang ditempelkan di perut. Pada awal kehamilan, sebaiknya ibu minum beberapa gelas air dan menahan berkemih sebelum pemeriksaan.

  • USG 2 Dimensi

USG ini hamper ada dimana-mana, ruma sakit bertaraf International di kota besar hingga puskesmas di pedesaan. Gambaran yang dihasilkan berwarna hitam putih. USG jenis ini menampilkan gambar dua bidang yaitu memanjang dan melintang. Pasien dan dokter hanya akan melihat gambaran di satu bidang permukaan saja, tergantung posisi bayi dan alat saat itu. Meski gambaran yang dihasilkan sangat terbatas, USG jenis ini dapat mendeteksi sebagian besar kelainan, bahkan hingga angki 80%. Biayanya pun relatif lebih murah, bahkan gratis.

  • USG 3 Dimensi

Dengan alat USG ini ada tambahan 1 bidang gambar lagi yang disebut koronal. Gambar yang tampil mirip dengan gambar animasi 3 dimensi kesukaan anak-anak. Permukaan tubuh janin dapat dilihat dengan jelas. Bentuk muka, mata, hidung, jari, bagian kaki dapat dilihat dengan baik. Begitu pun keadaan janin dari posisi yang berbeda. Ini memungkinkan karena gambarnya dapat diputar.

Selain itu, teknologi 3D juga dapat mendeteksi gangguan dan kelainan lebih akurat, karena bisa meneropong janin hingga ke organ dalam. Adanya tumor, jumlah volume cairan, dan lilitan tali pusat dapat dideteksi dengan baik. Meski begitu, biaya untuk melakukan pemeriksaan USG jenis ini relatif lebih mahal.

  • USG 4 Dimensi

Gambaran yang dihasilkan mirip film animasi tiga dimensi. Sebetulnya USG 4 Dimensi ini hanya istilah untuk USG 3 dimensi yang dapat bergerak (live 3D). Kalau gambar yang diambil dari USG 3 dimensi statis, sementara pada USG 4 Dimensi, gambar janinnya dapat “bergerak”. Jadi pasien dapat melihat lebih jelas dan membayangkan keadaan janin di dalam rahim. Tentu fungsi USG 4D tak hanya itu, piranti canggih ini memiliki banyak kelebihan dibandingkan USG biasa. Selain dapat mengetahui permukaan anatomi janin secara lebih jelas, mulai wajah hingga kelengkapan anggota badan, juga bisa mengetahui kelainan pada bayi secara jelas.

Keunggulan lain USG 4D adalah pada pemeriksaan jantung. Dahulu kita tidak mungkin  menganalisis jantung dengan gambar yang begitu jelas, bisa bergerak, bisa dipelankan geraknya, diputar, diperbesar, dan sebagainya. Dengan USG 4D ini, hal-hal tersebut dapat dilakukan. Gambar yang muncul adalah gambar jantung utuh, sehingga terlihat rongga, katup dan sebagainya. Terlebih lagi, wajah sang jabang bayi pun tampak jelas melalui USG 4D, apakah sedang tersenyum atau sedih. Biaya USG 4 dimensi umumnya relatif lebih mahal.

Meski cukup canggih dan mampu mendeteksi sebagian besar gangguan, USG tetap memiliki keterbatasan. Alat USG maksimal digunakan Selama 30 menit dan bayi harus dalam keadaan diam. Bila bergerak, bisa jadi gambarnya hilang dari layar computer, sehingga harus diulang lagi. Jadi, akurasi/ketepatan pemeriksaan USG tidak 100%, artinya ada kemungkinan ada gangguan yang tidak dapat dideteksi.

Posisi bayi juga menentukan ketepatan pemeriksaan USG. Posisi bayi seperti tengkurap atau meringkuk juga menyulitkan daya jangkau/daya tembus alat USG. Meski dengan menggunakan USG 3 atau 4 Dimensi sekalipun, tetap ada keterbatasan. Begitu juga bila kehamilan ibu kembar, yang dapat menyulitkan kerja alat USG untuk mendapat gambaran masing-masing kondisi bayi secara detail. Masih ada banyak penyulit lain yang mengurangi akurasi pemeriksaan USG.

Serahkan pada Ahlinya

Meski penting, tidak setiap periksa ke dokter, ibu harus menjalani pemeriksaan USG. Berdasarkan kesepakatan international, USG hanya direkomendasikan 3 kali sepanjang hamil.

  • Pertama, di awal kehamilan atau trimester pertama untuk mendeteksi, apakah ibu hamil atau tidak, melihat kondisi janin, menentukan usia kehamilan, dan lainnya.
  • Pemeriksaan USG yang kedua dilakukan pada kehamilan usia 12-14 minggu. Tujuannya, untuk mendeteksi kelainan seperti Down’s Syndrome (DS).
  • Pemeriksaan yang terakhir dilakukan pada minggu ke 18 – 20 untuk melihat ada tidaknya kelainan cacat bawaan mayor. Di luar waktu itu, pemeriksaan USG hanya pilihan, boleh iya dan tidak. Kecuali bila ibu diduga mengalami gangguan/ kelainan seperti adanya kista besar yang menjurus ke tumor dan gangguan lainnya.

Meski ibu sering menjalani USG karena ada indikasi medis, tidak perlu takut akan dampak negatife USG, baik pada ibu maupun janin. Sebab, USG tidak menggunakan sinar rontgen, tapi gelombang suara yang relatif aman selama dilakukan oleh seorang yang ahli. USG telah dilakukan klinis sejak tahun 1960 dan penelitian medis tidak menemukan efek samping. Artinya, belum pernah ada bayi yang terlahir cacat karena efek USG selama masa kehamilan.

Pastikan hanya ahli yang melakukan pemeriksaan USG. Ahli ini, dokter atau bidan, yang  sudah memiliki sertifikat USG yang dikeluarkan oleh badan berwenang seperti POSKI (Perkumpulan Ultrasonografi Kedokteran Indonesia). Setiap USG, baik 2D, 3D atau 4D memiliki sertifikasi tersendiri. Sebab, untuk hasil tepat dan akurat, hanya ahli yang sudah mempelajari teknik USG yang benar yang dapat melakukannya. Ahli yang terampil ini juga menghindarkan dari efek samping USG akibat pemeriksaan yang salah.

Related Posts