Preeklamsia (Keracunan Pada Kehamilan)

Dr. Dr. Ali Sungkar

Preeklamsia adalah keracunan pada kehamilan yang biasanya terjadi pada trimester ketiga kehamilan atau bisa juga muncul pada trimester kedua. Preeklamsia serta gangguan tekanan darah lainnya merupakan kasus yang menimpa setidaknya lima hingga delapan persen dari seluruh kehamilan.  Dua penyakit ini pun tercatat sebagai penyebab utama kematian serta penyakit pada bayi dan ibu hamil di seluruh dunia. Dan di Indonesia 3 kematian ibu terbesar salah satunya disebabkan oleh preeklamsia/ eklampsia.

Dasar penyebab terjadinya preeklamsia belum diketahui secara pasti, salah satu teori terjadinya preeklampsia diduga adanya gangguan implantasi dari hasil konsepsi yang menyebabkan perubahan/ gangguan pada fungsi endotel pembuluh darah (sel pelapis bagian dalam pembuluh darah) yang menimbulkan vasospasme pembuluh darah (kontraksi otot pembuluh darah yang menyebabkan diameter lumen pembuluh darah mengecil/ menciut).

Adanya perubahan respons imun ibu terhadap janin/ jaringan plasenta (ari-ari) diduga juga berperan pada terjadinya preeklamsia. Kerusakan endotel tidak hanya menimbulkan mikrotrombosis difus plasenta (sumbatan pembuluh darah plasenta) yang menyebabkan plasenta berkembang abnormal atau rusak, tapi juga menimbulkan gangguan fungsi berbagai organ tubuh dan kebocoran pembuluh darah kapiler. Kapiler organ yang rusak yang bermanifestasi pada ibu dengan bertambahnya berat badan ibu secara cepat, bengkak (perburukan mendadak bengkak pada kedua tungkai, bengkak pada tangan dan wajah), edema paru, dan/ atau hemokonsentrasi (kadar hemoglobin/ Hb lebih dari 13 g/dL), gangguan mata, kelebihan beban jantung, serta pembengkakan otak.

Plasenta yang tidak normal akibat mikrotrombosis difus, akan menurunkan aliran darah dari rahim ke plasenta. Hal tersebut akan mempengaruhi kehidupan janin dan bermanifestasi secara klinis dalam bentuk pertumbuhan janin terhambat di dalam kandungan/ rahim dan oligohidramnion (cairan ketuban sedikit).

Perlu diperhatikan kemungkinan kondisi  yang dapat memicu terjadinya preeklamsia:

• Ibu hamil berusia lebih muda dari 18 tahun atau lebih tua dari 35 tahun akan lebih besar risikonya menderita preklamsia

• Obesitas, indeks massa tubuh 35+

• Memiliki kondisi medis yang memicu Preeklamsi, seperti: diabetes, tekanan darah tinggi, lupus, penyakit ginjal dan migren

• Hamil  bayi kembar

• Selang waktu jarak antar kehamilan kurang dari 2 tahun atau lebih dari 10 tahun

• Adanya riwayat keluarga dengan preeklamsia

• Diet atau mengkonsumsi makanan yang salah

GEJALA PREEKLAMSIA

Beberapa gejala yang muncul pada kasus Preeklamsia pada ibu hamil, antara lain:

• Merasakan sakit kepala yang teramat sering, terutama jika kehamilan telah mencapai usia lebih dari 20 minggu

• Peningkatan tekanan darah lebih dari 130/90 mmHg (hipertensi)

• Pada pemeriksaan akan ditemukan kadar protein tinggi di dalam urin (proteinuria) karena gangguan dari ginjal

• Volume urin berkurang

• Penglihatan menjadi kabur dan sensitif terhadap cahaya/silau.

• Nyeri perut bagian atas, biasanya di bawah rusuk sebelah kanan, disertai mual

• Kenaikan berat badan lebih dari 1,36 kg setiap minggu selama trimester kedua dan lebih dari 0,45 kg setiap minggu pada trimester ketiga.

• Pembengkakan (edema) pada kaki, tungkai dan wajah. Pada kondisi yang lebih berat, pembengkakan terjadi di seluruh tubuh karena pembuluh kapiler bocor, sehingga air yang merupakan bagian sel merembes dan masuk kedalam jaringan tubuh dan tertimbun di bagian tertentu

• Mengalami kejang dan oksigenisasi

KOMPLIKASI

1. Berkurangnya Aliran Darah Menuju Plasenta,

Preeklamsia akan mempengaruhi pembuluh arteri yang membawa darah menuju plasenta. Jika plasenta tidak mendapat cukup darah, maka janin akan mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga pertumbuhan janin melambat atau lahir dengan berat kurang.

2. Lepasnya Plasenta

Preeklamsia meningkatkan risiko lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum lahir, sehingga terjadi pendarahan dan dapat mengancam bayi maupun ibunya.

3. Sindrom HELLP

HELLP adalah singkatan dari Hemolyssi (perusakan sel darah merah), Elevated liver enzyme dan low platelet count (meningkatnya kadar enzim dalam hati dan rendahnya jumlah sel darah dalam keseluruhan darah). Gejalanya, pening dan muntah, sakit kepala serta nyeri perut atas.

4. Eklamsia

Jika preklamsia tidak terkontrol, maka akan terjadi eklamsia. Eklamsia dapat mengakibatkan kerusakan permanen organ tubuh ibu, seperti otak, hati atau ginjal. Eklamsia berat menyebabkan ibu mengalami koma, kerusakan otak bahkan berujung pada kematian janin maupun ibunya pada saat sebelum persalinan, persalinan atau sesudah persalinan.

TERAPI & PENYELAMATAN

Diagnosa preeklamsia ditegakkan berdasarkan riwayat pasien dan pemeriksaan. Apabila pada pemeriksaan ditemukan kondisi seperti yang telah disebutkan di atas, sudah bisa dipastikan ibu itu menderita preeklamsia. Bila si ibu hanya mengalami preeklamsia ringan, kondisi ini tidak selalu memerlukan obat tapi hanya pemeriksaan rutin kehamilan. Pemeriksaan meliputi pemeriksaan darah, jumlah urin, dan pemeriksaan ginjal, memonitor lebih ketat perkembangan janin, biasanya dengan USG. Agar janin tetap memperoleh pasokan oksigen dan makanan yang cukup, ibu hamil dengan preklamsia dianjurkan untuk melakukan tes stress janin dengan mengukur pergerakan bayi dan denyut jantung bayi.

Tapi jika preeklamsia yang lebih serius, si ibu disarankan beristirahat total di tempat tidur atau mungkin dianjurkan menjalankan perawatan di rumah sakit karena kondisi umumnya harus dipantau terus guna melihat tekanan darah dan perkembangan bayi. Pengobatan yang dilakukan tergantung pada umur kehamilan dan seberapa dekatnya dengan perkiraan kelahiran. Bila preeklamsia terjadi pada minggu-minggu akhir kehamilan, dokter akan mengambil tindakan untuk segera mengeluarkan bayi. Tetapi jika preeklamsia terjadi pada awal kehamilan, dokter akan berusaha memperpanjang kehamilan sampai bayi dianggap telah cukup kuat untuk lahir.

Apabila sudah dekat dengan tanggal perkiraan kelahiran dan bayi sudah dianggap cukup berkembang, dokter akan menyarankan untuk mengeluarkan si bayi sesegera mungkin. Dokter dapat merekomendasikan pemakaian obat penurun tekanan darah. Pada preklamsia parah dan sindroma HELLP, obat costicosteroid dapat memperbaiki fungsi hati dan sel darah. Obat ini juga dapat membantu paru-paru bayi tumbuh bila harus terjadi kelahiran  prematur.

PENCEGAHAN

Berdasarkan hal-hal yang telah dijelaskan di atas, melakukan pemeriksaan rutin kepada dokter kandungan setiap bulan pada setiap ibu hamil sangatlah penting, agar perkembangan berat badan, urin serta tekanan darah ibu dapat terpantau dengan baik. Konsultasikan pada dokter, sebelum mengkonsumsi suplemen di saat hamil. Sebaiknya ibu menjalani pola makan yang sehat dengan menu seimbang mengingat obesitas merupakan salah satu faktor pencetus preeklamsia. Idealnya pola makan yang sehat dan menu seimbang dan menjaga berat tubuh sejak sebelum hamil atau ketika merencanakan kehamilan dapat mengurangi risiko terkena preeklamsia.

Related Posts